Di Alaska
"How could you throw me out and love him out of blue?"
Sebatang rokok filter kuhisap dalam-dalam hingga dadaku terasa sesak, suhu malam hari ini masih sama persis dengan tahun itu. Ketika ayunan kecil ini bergoyang pelan lewat tanganmu dan aku duduk tertawa melihatmu yang sedang berjuang melawan kesedihan yang tak ku-ketahui selama ini. Tangis seorang wanita yang dulunya kuanggap sebelah mata itu, hari ini aku hanya bisa melihatnya dalam bayangan yang makin lama makin pudar. Aku pernah mendengar bahwa banyak penyair cinta ketika mati tidak mendapati kekasihnya. Mungkin itu benar, kata mereka-pun dunia ini hanya terasa seperti pohon tanpa buah, malam tanpa siang, sepeda tanpa roda, gereja tanpa doa atau bisa dibilang "Hampa".
Sayang. Sayangnya, mereka mengetahui itu semua setelah menyadari bahwa cinta begitu dalam ketika kekasihnya pergi menghilang, ketika orang yang selalu ia sebut dalam doa hanya menjadi manekin yang hanya bisa dilihat diluar jendela. Sepertimu, yang sekarang ini begitu asing. Kita berdua memiliki jalan tempuh yang begitu berbeda. Aku masih duduk di tumpukan salju di Alaska, dengan pakaian terbuka, seperti saat dulu, saat itu kita sedang bercinta. Dan kini disini tak ada siapapun, aku hanya ditemani rokok yang terbunuh pelan pelan oleh udara dingin.
Kau selalu melihatku merasa kuat padahal kau yang paling tau aku penyakitan, Kau syok ketika mendapati cerita dari kehidupanku saat aku telah kehilangan hangatnya tubuhmu. Kau bahkan tidak memiliki prasangka aku bisa sejauh ini, bukan seperti Aku di tahun itu. Bukan juga pria yang Kau idam-idamkan dulu. Jika saja ada kesempatan untuk bersamamu, Aku sudah tidak memiliki bahu yang nyaman untuk kepalamu. Aku tampak sudah sangat jauh bukan? Menurutmu.
Kau-pun begitu, Kau sudah tampak jauh. Kau orang yang jujur, tulus meskipun ada sedikit noda dalam hatimu, Kau masih nampak sempurna untukku. Sejauh ini. Sebanyak apapun pasangan yang telah Kumiliki, walau-walau Kau kerap kali memperingatiku untuk tidak mencari orang sepertimu, namun tetap saja, Aku tetap kembali sendirian ketempat-tempat yang pernah Aku kunjungi bersamamu.
Bagaimana bisa ini terjadi? Mengapa kau begitu tega? Sudah berapa tahun? Harus berapa kali aku membangun? Apakah pil ini membantu melupakanmu? Apakah dunia paralel yang kau bilang itu ada?
Lalu apakah aku harus mencari tahu kehidupan setelah kematian itu ada, agar tersisa ruang untuk kita memadu rasa disana? Aku ingin menjadi jujur, di hadapan Tuhan. Sebab Tuhan kita sama.
"Tuhan. jika dia untukku maka kembalilah dia seperti burung dara saat diberi mandat Nabi Nuh untuk mengecek apakah daratan itu telah kering untuknya, atau pergilah dia seperti burung gagak yang tidak kembali kepadanya sebab daratan masih dipenuhi luka yang sama, Amen"
Komentar
Posting Komentar