Di Alaska
"How could you throw me out and love him out of blue?" Sebatang rokok filter kuhisap dalam-dalam hingga dadaku terasa sesak, suhu malam hari ini masih sama persis dengan tahun itu. Ketika ayunan kecil ini bergoyang pelan lewat tanganmu dan aku duduk tertawa melihatmu yang sedang berjuang melawan kesedihan yang tak ku-ketahui selama ini. Tangis seorang wanita yang dulunya kuanggap sebelah mata itu, hari ini aku hanya bisa melihatnya dalam bayangan yang makin lama makin pudar. Aku pernah mendengar bahwa banyak penyair cinta ketika mati tidak mendapati kekasihnya. Mungkin itu benar, kata mereka-pun dunia ini hanya terasa seperti pohon tanpa buah, malam tanpa siang, sepeda tanpa roda, gereja tanpa doa atau bisa dibilang "Hampa". Sayang. Sayangnya, mereka mengetahui itu semua setelah menyadari bahwa cinta begitu dalam ketika kekasihnya pergi menghilang, ketika orang yang selalu ia sebut dalam doa hanya menjadi manekin yang hanya bisa dilihat diluar jendela. Sepertimu, ya...